SATUAN
ACARA BERMAIN
PUZZLE
PADA ANAK USIA PRESCHOOL
Di
RUANG 7 RSUD dr.Syaiful Anwar

DISUSUN
OLEH :
DYAH SARTIKA (1201200042)
SANDY MALINDA (1201200059)
APRILIA KARTIKASARI (1201200070)
DIAH RETNO
WULANDARI (1201200074)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN LAWANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
MALANG
Pokok Bahasan : Terapi bermain pada
anak di rumah sakit
Sub Pokok Bahasan : Terapi bermain anak usia preschool
Tempat : Ruang anak (ruang 7) RSUD
dr.Syaiful Anwar
Hari/tanggal : Jumat, 2 Mei 2014
Waktu : 30 menit (jam 10.00 – 10.30)
Sasaran : Anak usia preschool tahun yang
idrawat di ruang 7
Jenis permainan : Puzzle
Penyaji : Kelompok 7 Poltekkes Kemenkes Malang prodi
DIII Keperawatan Lawang
Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapat terapi bermain
selama 30 menit, anak diharapkan bisa merasa tenang selama perawatan dirumah
sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat sehingga anak bisa merasa nyaman
selama dirawat di rumah sakit.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan terapi
bermain .diharapkan :
1.
Anak
mampu berlatih tentang problem solving
2.
Anak
merasa tenang selama dirawat
3.
Anak
bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter dan perawat
4.
Mau
melaksanakan anjuran dokter dan perawat
5.
Anak
menjadi kooperatif pada perawat dan tindakan keperawatan
6.
Kebutuhan
bermain anak dapat terpenuhi
7.
Dapat
melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal
8.
Dapat
mengekspresikan keinginan, perasaan dan fantasi anak tentang suatu permainan
9.
Dapat
mengembangkan kreativitas melalui pengalaman bermain yang tepat
10. Agar anak dapat beradaptasi lebih
efektif terhadap stress karena sakit
11. Anak dapat merasakan suasana yang
nyaman dan aman seperti dirumah sebagai alat komunikasi antara perawat – klien
RENCANA PELAKSANAAN
|
No
|
Kegiatan
|
Waktu
|
Subjek
terapi
|
|
1
|
Persiapan :
1.
Menyiapkan
ruangan
2.
Menyiapkan
alat – alat
3.
Menyiapkan
anak dan keluarga
|
5 menit
|
Ruangan, alat, anak dan
keluarga siap
|
|
2
|
Proses :
1.
Membuka
proses terapi dengan mengucapkan salam, memperkenalkan diri
2.
Menjelaskan
pada anak dan keluarga tentang tujuan dan manfaat bermain, menjelaskan cara
permainan
3.
Mengajak
anak bermain
4.
Mengevaluasi
respon anak dan keluarga
|
20 menit
|
Menjawab salam, memperkenalkan
diri, memperhatikan
Bermain bersama dengan antusias
dan mengungkapkan perasaannya
|
|
3
|
Penutup
1.
Menutup
dan mengucapkan salam
|
5 menit
|
Memperhatikan dan menjawab
salam
|
Metode : bermain bersama
Media : puzzle (bongkar pasang)
Materi : terlampir
Pembagian tugas :
Leader : Diah
Retno
Observer : Sandy Malinda
Observer : Aprilia Kartika Sari
Fasilitator : Dyah Sartika
SETTING
TEMPAT

Evaluasi
Peserta terapi bermain puzzle mampu :
1.
Menyelesaikan
puzzle dengan bentuk yang benar
2.
Melatih
memecahkan masalah
3.
Membedakan
warna dan bentuk
4.
Merasa
senang, tenang terkait hospitalisasi
MATERI SATUAN ACARA BERMAIN
Menurut Foster (1989) mengatakan bahwa bermain
adalah kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri untuk memperoleh
kesenangan.
Menurut isinya, bermain terbagi menjadi;
1. Social
affective play
Pada social affectif play, anak belajar memberi
respon terhadap respon yang diberikan lingkungan terhadapnya dalam bentuk
permainan, misalnya orang tua berbicara atau memanjakan dan anak tertawa
senang.
2. Sense
of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada
di sekitarnya misalny bermain air atau pasir.
3. Skill
Play
Permainan yang memberikan kesempatan pada anak untuk
memperoleh keterampilan tertentu misalnya mengendarai sepeda..
4. Dramatic
play
Anak akan berfantasi menjalankan peran tertentu,
misalnya menjadi ibu, perawat atau guru.
Menurut Karakter
Sosial, bermain terdiri dari:
1. Solitary
Play
Dilakukan anak usia toddler dimana anak bermain
sendiri walaupun ada orang lain yang berada di sekitarnya.
2. Parallel
Play
Permainan sejenis dilakukan oleh satu kelompok anak
toddler atau preschool yang masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi
antara satu dengan yang lain tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung.
3. Assosiative
Play
Anak bermain dalam kelompok dengan aktivitas yang
sama, tetapi belum terorganisasi dengan baik jadi belum ada pembagian tugas dan
mereka bermain sesuai dengan keinginannya.
4. Cooperative
Paly
Anak bermain bersama dengan jenis permainan yang
terorganisasi, terencana, dan ada aturan-aturan tertentu yang dilakukan oleh
anak usia sekolah atau adolescence.
1. Perkembangan
Sensory Mototic
Permainan yang aktif dengan menggunakan suatu obyek
adalah penting untuk perkembangan otot-otot gerak.
2. Perkembangan
Kognitif
Perkembangan ini diperoleh dengan melakukan
eksplorasi dan manipulasi benda-benda di sekitarnya baik dalam hal warna
bentuk, ukuran dan pentingnya benda tersebut. Anak juga belajar bagaimana
menggunakannya, menghubungkan
kata-kata dengan objek atau benda tersebut dan mengembangkan pengertian tentang
konsep yang abstrak misalnya atas, bawah, di bawah dan di atas.
3. Perkembangan
kreativitas
Anak dapat melakukan percobaan tentang ide mereka
dalam permainan melalui semua media. Kreativitas terutama diperoleh sebagai
hasil permainan solitary dan group.
4. Perkembangan
social
Dengan bermain anak belajar berinteraksi dengan
orang lain dan mempelajari peran dalam kelompok.
5. Perkembangan
Kesadaran Diri
Anak belajar memahami kemampuan dirinya,
kelemahannya dan tingkah lakunya terhadap orang lain
6. Perkembangan
Moral
Dengan bermain, anak akan bertingkah laku sesuai
dengan yang diharapkan, karenanya anak akan menyesuaikan dengan aturan-aturan
kelompok dan bersikap jujur terhadap kelompok
7. Terapi
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk
mengekspresikan perasaan yang tidak enak misalnya marah, benci, kesal atau
takut.
8. komunikasi
Bermain merupakan alat komunikasi terutama anak yang
belum dapat menyatakan perasaannya secara verbal misalnya melukis, menggambar
atau bermain peran
Adapun
jenis permainan yang dapat diberikan kepada anak berdasarkan tingkat usia
adalah sebagai berikut;
1.
Bayi
(1 bulan)
Permainan
yang dapat dilihat dalam jarak dekat misalnya dengan benda yang
terang/menyolok. Berbicara dengan bayi, menyanyi, atau bercanda dapat
merangsang pendengaran. Secara tactile dilakukan denagn memeluk dan menggendong
(memberi kehangatan). Secara kinetic permainan dapat dilakukan dengan mengajak
atau naik kereta untuk jalan-jalan.
2.
Bayi
(2 – 3 bulan)
Permainan visual dapat dilakukan dengan memasang
gambar-gambar di dinding. Untuk merangsang auditori dapat dilakukan berbicara
dengan bayi, mainan bunyi-bunyian atau mengikutsertakan bayi dalam pertemuan
keluarga. Secara tactile permainan dapat dilakukan dengan membelai pada waktu
memandikan, mengganti pakaian atau menyisir rambut. Sedangkan secara kinetic
yaitu dengan mengajak naik kereta atau gerakan-gerakan berenang pada saat
mandi.
3.
Bayi
(4 – 6 bulan)
Permainan visual dapat dilakukan dengan memberi
cermin, mengajak nonton tv, atau mainan yang berwarna terang. Permainan
auditori dengan mengajak bicara, mengulangi suara-suara yang dibuatnya atau
memanggil nama. Secara tactile anak bdiberi mainan dengan berbagai teksture
baik lembut maupun lancer. Secara
kinetic dilakukan dengan membantu anak untuk tengkurap dan menyokong waktu
duduk.
4.
Bayi
(6 – 9 bulan)
Permanan visual dengan bermain warna gelap,
berbicara sendiri di depan kaca, permainan cilukba atau merobek-robek kertas.
Permainan auditori dapat dilakukan dengan mengajari anak memanggil nama,
diajarkan tepuk tangan. Tactile permainan dapat dilakukan dengan cara meraba
bermacam-macam teksture dan ukuran, main air yang mengalir atau berenang.
5.
Bayi
(9 – 12 bulan)
Permainan visual anak diperlihatkan gambar-gambar
dalam buku atau mengajak jalan-jalan. Permainan auditori dengan menunjukkan
bagian-bagian tubuh atau memperkenalkan suara-suara binatang. Secara tactile
dengan memberi makanan yang dapat dipegang atau memperkenalakan benda dingin
atau panas. Secara kinetic dapat diberikan mainan yang dapat ditarik atau
didorong.
6.
Toddler
(2 – 3 tahun)
Karekteristik bermain anak usia ini yaitu paralel
play, sering kali bertengkar memperebutkan mainan. Pada usia ini anak mulai
menyenangi musik atau irama , melempar, mendorong atau mengambil sesuatu.
7.
Preschool
(3 – 5 tahun )
Karekteristik permaiana preschool adalah assosiatif
play, dramatic play dan skill play. Anak sudah dapat melompat, berlari atau
main sepeda.
8.
Usia
Sekolah (6 – 12 tahun)
Anak dapat bermain dengan
kelompok yang berjenis kelamin sama dan dapat belajar untuk independent,
kooperatif, bersaing atau menerima orang lain dan tingkah laku yang diterima.
Karekteristik permaianannya adalah kooperatif play dan anak laki-laki sifatnya
mechanical sedangkan anak wanita mothers rool.
9.
Adolescent
(3 – 18 tahun)
Anak bermain dalam kelompok misalnya sepak bola,
basket, badminton, mendengar musik, nonton tv serta membaca buku.
Daftar
Pustaka
Yudiernawati, Atty. 2006. Peran Bermain Dalam Perkembangan Psikososial
Anak. Malang; Politeknik Kesehatan Malang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar